Nyepi, ada yang belum tau tentang nyepi ? Kata nyepi berasal dari kata 'sepi'. Sesuai dengan namanya, nyepi adalah hari raya bagi umat Hindu menurut kalender/penanggalan caka. Nyepi adalah hari dimana umat Hindu akan berdiam dirumah dan tidak melakukan aktivitas apapun hingga keesokan harinya. Tujuan utama Hari Raya Nyepi adalah memohon ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa, untuk menyucikan Bhuana Alit (alam manusia/ microcosmos ) dan Bhuana Agung/macrocosmos (alam semesta).
Biasanya para Pecalang akan berjaga-jaga untuk mengamankan daerah tersebut agar tidakada yang keluar dari rumah masing-masing. Pada hari ini tidak boleh menyalakan lampu pada malam harinya. Saluran Tv pun diputus. Ada yang menarik dari Hari Raya Nyepi ini, malam sebelum hari ini terdapat upacara yang unik, yang menjadi salah satu daya tarik wisatawan. Yakni ogoh-ogoh yang diarak warga hingga larut malam.
Tiga atau dua hari sebelum Nyepi, umat Hindu melakukan Penyucian dengan melakukan upacara Melasti atau disebut juga Melis/Mekiyis. Pada hari tersebut, segala sarana persembahyangan yang ada di Pura (tempat suci) diarak ke pantai atau danau, karena laut atau danau adalah sumber air suci (tirta amerta) dan bisa menyucikan segala leteh (kotor) di dalam diri manusia dan alam.
Sehari sebelum Nyepi, yaitu pada "tilem sasih kesanga" (bulan mati yang ke-9), umat Hindu melaksanakan upacara Buta Yadnya
di segala tingkatan masyarakat, mulai dari masing-masing keluarga,
banjar, desa, kecamatan, dan seterusnya, dengan mengambil salah satu
dari jenis-jenis caru (semacam sesajian) menurut kemampuannya. Buta Yadnya itu masing-masing bernama Pañca Sata (kecil), Pañca Sanak (sedang), dan Tawur Agung (besar). Tawur atau pecaruan sendiri merupakan penyucian/pemarisuda Buta Kala , dan segala leteh (kekotoran) diharapkan sirna semuanya. Caru yang dilaksanakan di rumah masing-masing terdiri dari nasi manca (lima) warna berjumlah 9 tanding /paket beserta lauk pauknya, seperti ayam brumbun (berwarna-warni) disertai tetabuhan arak/tuak. Buta Yadnya ini ditujukan kepada Sang Buta Raja, Buta Kala dan Batara Kala, dengan memohon supaya mereka tidak mengganggu umat.
Mecaru diikuti oleh upacara pengerupukan , yaitu menyebar-nyebar nasi
tawur, mengobori-obori rumah dan seluruh pekarangan, menyemburi rumah
dan pekarangan dengan mesiu, serta memukul benda-benda apa saja
(biasanya kentongan) hingga bersuara ramai/gaduh. Tahapan ini dilakukan untuk mengusir Buta Kala dari lingkungan rumah, pekarangan, dan lingkungan sekitar. Khusus di Bali , pengrupukan biasanya dimeriahkan dengan pawai ogoh-ogoh yang merupakan perwujudan Buta Kala yang diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.
Ada bermacam-macam ogoh-ogoh, mulai dari yang seram seperti dibawah ini.
Hingga yang membuat tertawa seperti ini.
Penerbangan dan penyebrangan di bandaradan pelabuhan sementara ditutup hingga keesokan harinya. Para warga pendatang yang bukan beragama hindu pun terpaksa mengikuti acara ini. Seperti saya sendiri, walaupun saya tidak beragama hindu, tapi saya tetap menghormati para penganutnya. Para wisatawan yang tinggal dihotel juga tak bisa kemana-mana. Semua orang saling bertoleransi. Sebuah hari yang suci, unik, dan mengandung kesenian didalamnya. Untuk kalian yang ingin berlibur ke-Bali sebaiknya memilih hari yang bebas. Namun, jika memang anda ingin mencoba sensasi tanpa lampu, tanpa siaran, suasana yang sunyi, why not ? :D



Tidak ada komentar:
Posting Komentar